• Dewan Guru dan Staff

    Mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevalusi peserta didik

  • Duta Prestasi Mifda

    Siswa-siswi meraih prestasi dalam Kompetisi Seni dan Olahraga dalama rangka HAB Kemenag Ke-75 Kab. Nganjuk Tahun 2020

  • Pembiasaan Sholat Dhuha Berjamaah

    Mengawali pembelajaran dengan beribadah kemudian dilanjutkan dengan baca tulis Al-Qur`an, Do`a belajar dan hafalan surat-surat pendek

  • Jum`at Bersih dan Sehat

    Kegiatan Jum’at Bersih dan sehat Sebagai Aternatif Peningkatan Kebugaran Peserta Didik di Madrasah mulai dari senam pagi, bersih lingkungan dan makan-minum sehat bersama

  • Ekstrakulikuler Marching Band

    Kegiatan Ekstrakulikuler sebagai wadah pengembangan potensi siswa secara optimal dan terpadu yang meliputi bakat, minat, dan kreativitas. Selain Marching Band masih ada banyak lagi ekstrakulikuler yang dapat dipilih siswa sesuia minat dan bakat siswa.

PROFIL MADRASAH IBTIDAIYAH MIFTAHUL HUDA



PROFIL MADRASAH IBTIDAIYAH

MIFTAHUL HUDA




1.       Tujuan Satuan Pendidikan Dasar

Undang-Undang Otonomi Daerah meletakkan kewenangan sebagian besar pemerintahan bidang pendidikan dan kebudayaan yang selama ini berada pada pemerintahan pusat kepada pemerintahan daerah (Kabupaten/Kota).  Peraturan Pemerintah No. 25 Tahun 2000, menegaskan pergeseran struktur kewenangan sistem administrasi pendidikan dengan sistem pengelolaan terpusat ke sistem pengelolaan pendidikan berbasis sekolah. Pergeseran struktur kewenangan ini merupakan momentum  yang tepat untuk melakukan reformasi sestem pengelolaan di sekolah untuk melakukan peningkatan mutu sebuah sekolah. Selanjutnya pemerintah menetapkan peraturan pendidikan berbasis masyarakat untuk meningkatkan peran serta masyarakat bagi peningkatan mutu sekolah.

Menyambut program ini, Kementrian Agama yang menaungi lembaga pendidikan Islam madrasah mengeluarkan Keputusan Dirjen Binbaga Islam Depag Nomor: E/101/2001 tentang majlis Madrasah. Perubahan dan perkembangan dunia global menuntut pihak-pihak pengelola pendidikan untuk merespon perubahan tersebut sehingga lembaga pendidikan tidak tertinggal dengan tuntutan realitas sosial dan melakukan inovasi-inovasi pendidikan sehingga menampilkan sekolah-sekolah yang bermutu.

Otonomi perlu diberikan agar sekolah leluasa mengelola sumber daya dan sumber dana dengan mengalokasikannya sesuai dengan prioritas kebutuhan, serta lebih tanggap terhadap kebutuhan setempat. Pelibatan masyarakat dimaksudkan agar mereka lebih memahami, membantu dan mengontrol pengelolaan pendidikan. Kewenangan yang tertumpu pada sekolah merupakan inti dari MBS (Manajemen Berbasis Sekolah) dimana sekolah dituntut secara mandiri menggali, mengalokasikan, menentukan prioritas, mengendalikan dan mempertanggung jawabkan pemberdayaan sumber-sumber, baik kepada masyarakat maupun pemerintah.

Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, MI Miftahul Huda mulai tahun pelajaran 2014/2015 menerapkan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan ( KTSP ) pada kelas I s/d VI. Hal ini dilaksanakan berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2009. Selanjutnya seluruh kegiatan belajar dan mengajar menggunakan metode pembelajaran PAKEM (Pembelajaraan Aktif Kreatif dan Menyenangkan), untuk menunjang kegiatan tersebut diperlukan banyak sarana dan prasarana serta media pembelajaran yang menunjang serta dengan sistem evaluasi untuk mengukur pada kemampuan kompetensi secara menyeluruh, baik dari aspek kognitif, efektif dan psikomotorik dengan batas ketuntasan individu minimal 70 %.

2.       Implementasi MBS di MI Miftahul Huda.



Dasar Pemikiran :



Pelaksanaan MBS memerlukan perubahan pola pikir dan bahkan budaya kerja. MBS lebih diperlukan dalam proses manajemen yang seharusnya dilakukan di madrasah agar terjadi kewenangan madrasah dalam mengelola pendidikan. Sekolah mampu menyusun dan melaksanakan program-program yang sesuai dengan kondisi obyektifnya, terjadi kebukaan manajemen, terjadi iklim kerja yang baik dan terjadi kerjasama senergis antara semua warga madrasah, situasi dan kondisi itulah pada saatnya akan memerlukan peningkatan mutu pendidikan secara berkelanjutan.



Pada UU nomer 25 Tahun 2000 tentang Program Pengembangan Nasional dan UU  Nomer 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional, dapat dipahami pada kedua Undang-Undang tersebut telah mengamanatkan agar pengelolaan satuan pendidikan dilakukan dengan prinsip Manajemen Berbasis Sekolah.



Karena itulah MI Miftahul Huda Pandantoyo Kertosono yang merupakan satuan pendidikan madrasah di bawah Kementrian Agama, segera pro aktif  untuk melaksanakan UU tersebut. Sesuai dengan  buku panduan pengembangan Sekolah Standar Nasional (SSN), bahwa melalui MBS ada 6 yang didorong untuk dikembangkan di sekolah, yaitu :

1.       Kemandirian                 

2.       Kerjasama

3.       Keterbukaan

4.       Fleksibelitas

5.       Akuntabilitas

6.       Sustanibilitas



3.      Visi dan Misi MI MIFTAHUL HUDA



1. VISI  MI Miftahul Huda





Mencetak Generasi Muslim Dan Terwujudnya Manusia Yang Berakhlakul Karimah Yang Cerdas, Terampil Dan Mandiri Serta Bertanggung Jawab.



        2. MISI MI Miftahul Huda



1.  Menyelenggarakan Pendidikan Yang Berorientasi Pada Mutu Dan Kelulusan, Baik Di Bidang Keagamaan Maupun Ilmu Pengetahuan.
2.  Meningkatkan Kreatifitas Keagamaan.
            3. Mengoptimalkan Potensi Siswa
Share:

Sejarah Singkat MI Miftahul Huda







Secara historis, berdirinya MI Miftahul Huda tidak lepas dari peran serta pengurus Ta’mir Masjid “Al-Asykandariyah” Dusun Jabon Wetan Desa Pandantoyo yang dimotori oleh Bpk. KH. Romelan selaku Kepala Madrasah pertama, bersama pengurus ta’mir masjid serta tokoh masyarakat  saat itu mendirikan MI yang pertama kalinya yang bertempat di serambi Masjid sejak Th. 1976 s.d 1979, yang kemudian pindah ke rumah Bapak H. Romelan (Th. 1979 - 1982)

Atas jasa Pemerintah Desa Pandantoyo, dibawah kepemimpinan Kepala Desa (Alm.) Bpk. MASRAN, MI MIFDA mendapat wakaf tanah seluas 629 M2 di sebelah barat lapangan desa Pandantoyo untuk didirikan bangunan Madrasah (hingga saat ini)

MI Miftahul Huda pertama kali berdiri sekedar menjadi lembaga nonformal yang masuk sore, menjadi lembaga penyeimbang pendidikan anak yang paginya mengenyam pendidikan formal di SD, yang dianggap kurang dalam hal pendidikan agama.

Pada Tahun 2006, melalui keputusan musyawarah yayasan disepakati MI Miftahul Huda bermetamorfosa menjadi lembaga formal yang masuk pagi, hal ini tidak lepas adanya keputusan pemerintah terkait lembaga pendidikan formal dan non-formal, khususnya madrasah ibtidaiyah.
Dengan keberanian, tekat dan rasa optimistis bersandarkan do’a, Tahun Pelajaran 2006-2007 dinyatakan tonggak awal sejarah baru MI Miftahul Huda.

Bukan suatu perkara mudah mendapat kepercayaan masyarakat, bahkan suara-suara minor acap kali terdengar, mencibir dan rasa tidak percaya kalau MI Mifda mampu mempertahankan eksistensinya apalagi menjadi lembaga yang bermutu.

Dari hal ini lah, dibawah pimpinan Bpk. MH. Hasan Ansori (Ketua yayasan kedua) dan Bpk. M. Musyafak, S.Ag (Kepala Madrasah pertama) mencoba membuktikan diri dengan dukungan “relawan2” muda. dengan jumlah siswa pertama 9 orang yang akhirnya menjadi 13 siswa (Alumni Angkatan I).

Berdasarkan statistik perkembangan jumlah siswa dari tahun ketahun, menunjukan peningkatan yang signifikan. hal ini tidak lepas karena adanya dukungan masyarakat, komite madrasah, orang tua serta prestasi-prestasi siswa yang ditorehkan dalam setiap even lomba. Adapun jumlah siswa sampai Tahun Pelajaran 2015-2016 sebanyak 435 siswa.

Sungguh suatu pekerjaan yang tidak mudah untuk mempertahankan prestasi apalagi meningkatkannya. MI Mifda saat ini terus belajar dan terus berbenah, menata diri untuk menjadi lembaga yang lebih baik lagi kedepannya.
Besar harapan kami, MI Mifda mampu memberi warna dalam pendidikan Islam berhaluan Ahlussunnah Wal Jama’ah sebagai persembahan putra-putri bangsa untuk negeri tercinta.

Sumber : Interview Para Pendiri.
(@ “MA”)
Share:

Mendidik Dengan Kasih Sayang

Peranan penting seorang pendidik ialah menjadi ayah atau ibu kepada anak didiknya, ibarat seorang ayah dan ibu ketika memandang anak-anaknya, begitulah seharusnya seorang guru atau pendidik melihat anak didiknya dengan pandangan kasih sayang. Seorang ayah dan ibu tidak akan membiarkan seekor nyamuk atau seekor semut mengigit anaknya, ia akan berusaha melindunginya. Ayah ibu sanggup mempertaruhkan nyawa dan keselamatan dirinya untuk menyelamatkan mereka, demi anaknya.

orang tua yang mempunyai anak yang pencapaian akademiknya rendah masih menaruh harapan tinggi kepada anaknya. senakal apapun anaknya ia masih meyakini bahwa anaknya adalah seorang anak istimewa. Kenapa orangtua mempunyai pandangan tersebut? Ya, kerana ia memandang dengan penuh kasih sayang. Begitulah sewajarnya pandangan seorang pendidik terhadap pelajar-pelajarnya. Kasih-sayang menjadi obat untuk menghilangkan rasa lelah letih dalam mendidik.

Kasih sayang memberikan pengaruh timbal balik dalam hubungan antara guru dan pelajar. Jika seseorang guru, tidak mempunyai perasaan kasih terhadap anak didiknya maka bagaimana mungkin ia mampu membentuk dan membimbing mereka. Karena itu, kasih sayang memiliki peranan penting dalam dunia pendidikan, dan dikategorikan sebagai salah satu faktor utama dalam pendidikan dan dalam membangun hubungan/interaksi yang harmonis antara pendidik dan anak didiknya.

Pendidikan yang menggunakan pendekatan kasih sayang merupakan kaidah pendidikan terbaik karena sistem hubungan ini merupakan fitrah dan serasi dengan jiwa manusia.

Allah Swt melukiskan konsep cinta dalam ayat Al-Quran dengan firman-Nya: “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang bertakwa.” (Al Imran: 76). “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang berbuat kebajikan.” (Al Imran: 138). Jadi, hubungan antara sesama manusia, khususnya pelajar-pelajar harus dibangun berdasarkan bahasa cinta dan kasih sayang.

Kasih sayang begitu penting karena ia memicu ketaatan dan kebersamaan. Dalam hal ini Nabi saw bersabda: “Seseorang akan dikumpulkan bersama orang yang dicintainya.” Antara kasih sayang dan ketaatan memiliki ikatan kebersamaan. Yakni, kasih sayang akan mewujudkan ketaatan dan kebersamaan. Ketika kasih sayang orang guru tertanam dalam sanubari pelajar-pelajar maka mereka akan menjadi penurut dan pengikut gurunya. Buah dari kasih sayang guru ini akan membuat pelajar-pelajar tidak mudah mengabaikan tanggung jawab dan tugas yang diamanahkan kepada mereka.

Begitu penting peranan kasih sayang dalam pengembangan ruh dan keseimbangan jiwa pelajar-pelajar. Teguh tidaknya pendirian dan kebaikan perilaku seorang pelajar bergantung banyak sejauh mana kasih sayang yang diterimanya selama masa pendidikan. Kondisi keluarga yang penuh dengan kasih sayang menyebabkan kelembutan sikap pelajar-pelajar. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga yang penuh kasih sayang dan perhatian akan memiliki kepribadian yang mulia, suka mencintai orang lain dan berperilaku baik dalam masyarakat. Kehangatan cinta dan kasih sayang yang diterima pelajar-pelajar akan menjadikan kehidupan mereka bermakna, membangkitkan semangat, melejitkan potensi dan bakat yang terpendam, serta mendorong untuk bekerja/berusaha secara kreatif.

Kasih sayang merupakan sumber pendidikan jiwa. Bukanlah perkara mudah mengubah hati yang keras menjadi lembut, namun kasih sayang telah terbukti menjadi resep yang manjur dalam mengarahkan hati seseorang dan mengawalnya serta mampu mencegahnya dari perbuatan-perbuatan tercela dan hina. Bahkan kasih sayang dapat menyulap manusia yang semula tampak sederhana dan kurang diperhitungkan menjadi insan seutuhnya, jujur dan benar.

Imam Ja'far ash-Shadiq berkata: "Kasih sayang Allah begitu mengakar dan berbekas dalam diri manusia. Ketika Allah mencintai hamba-Nya maka Ia mengilhamkan ketaatan, menamkan sifaf qanaah (rela dengan segala pemberian Allah dan selalu merasa cukup) dan menjadikannya alim dalam urusan agama.” Guru yang mampu menjalin persahabatan dengan pelajarnya secara baik dan membangun komunikasi timbal balik dengan sehat adalah guru yang berkesan. Guru seperti ini biasanya mudah mengarahkan dan mendidik pelajar-pelajarnya.

Nabi Muhammad saw bersabda: "Bukanlah termasuk golongan kami seseorang yang tidak menyayangi anak-anak kecil dan tidak menghormati yang lebih tua."
Tidak ragu lagi kaidah yang paling berpengaruh dan efektif dalam pendidikan adalah pendekatan kasih sayang. Sebab kasih sayang memiliki daya tarikan dan pendorong akhlak yang baik serta memberikan ketenangan kepada pelajar yang bermasalah sekalipun.

Share:

Popular Posts

Diberdayakan oleh Blogger.

Pengikut

Labels