Menyaksikan antusiasme siswa siswi TK/RA
Kecamatan Kertosono dan sekitarnya dalam mengikuti kegiatan manasik haji
beberapa waktu lalu yang diselenggarakan oleh Madarasah Ibtidaiyah Miftahul
Huda Desa Pandantoyo Kecamatan Kertosono Kabupaten Nganjuk, memang mengharukan
sekaligus memberikan aura positif kepada perkembangan anak-anak. Itu terlihat
dari kesan yang terlihat dari banyak orang tua murid yang hadir menemani
anak-anaknya yang rata-rata berusia 6 tahun kebawah ini menjalankan pengalaman
menjalani salah satu Rukun Islam ke-5 ini. Kegiatan yang diselenggarakan dengan
rangkaian Sholat Idul Adha, Thawaf mengelilingi Kabah dan Hajar Aswadnya, Sa'i
dan Lempar Jum'rah ini memang wajib diperkenalkan kepada para anak-anak usia
dini ini agar menjadi bekal iman untuk masa depannya. Ada benarnya pepatah yang
mengatakan mendidik anak secara keras dan disiplin di saat kecil ibarat
mengukir diatas batu, sesuatu yang akan membekas kedalam memori mereka, apalagi
usia anak-anak di rentang waktu taman kanak-kanak termasuk usia emas. Para
orang tua murid yang hadir dalam acara ini sempat berkomentar kegiatan seperti
seharusnya sering dilakukan, mengingat serbuan permainan game on line dan
pengaruh internet yang makin bebas membuat banyak anak-anak menyaksikan program
yang belum saatnya mereka lakukan dan tonton. Manasik Haji bagi mereka yang
akan melakukan ibadah haji atau umroh merupakan latihan membaca doa bagi para
calon haji setiap thawaf, sa'i, dan lempar jumrah. Kegiatan yang bagi sebagian
kalangan seperti aneh ini ada tuntunan ritualnya. Secara umum Thawaf
mengelilingi Kabah adalah wujud penyembahan dan penghormatan kepada Allah SWT,
Sa'i ibarat melakukan kegiatan lari-lari kecil yang dilakukan istri Nabi
Ibrahim dalam mencari air antara bukit Shafa dan Marwah. Sedangkan lempar
jum'rah ibaratnya kita melempar batu kerikil kecil kepada dinding yang dianggap
sebagai perwujudan setan penganggu manusia yang harus dihindari dan dilawan.
Para anak-anak kecil yang lucu ini dibiasakan berpakaian ihram sedang bagi yang
wanita mengenakan baju kurung berwarna putih dan dipisahkan keduanya ketika
duduk mendengar sambutan dari ketua yayasan Miftahul Huda Pandantoyo Kertosono
Bapak MH. Hasan Ansori, yang memberikan sambutan. Pertanyaannya apakah kegiatan
pendidikan agama yang diajarkan di sekolah dan juga ritual yang dilakukan
setiap tahun ini akan membekas kepada perilaku dan tindakan anak-anak ini
ketika besar? Jawabannya tergantung dari pendidikan yang diberikan oleh orang
tua kepada anak-anaknya. Pendidikan tidak bisa hanya menyalahkan guru dan
pendidik karena waktu belajar yang pendek serta banyaknya murid yang harus
diawasi oleh setiap guru. Pendidikan di sekolah sifatnya normatif , sedangkan
efektivitasnya tergantung kepada keluarga yang memiliki anak-anak usia sekolah.
Fungsi ayah, ibu dan anggota keluarga lain seperti kakek, nenek, paman, tante dan
bahkan pembantu pun ikut menentukan. Pada waktu manasik, ajaran thawaf yang
memuja Allah SWT haruslah diwujudkan setiap hari di rumah ada contoh dari orang
tua yang sholat 5 waktu, ajaran sa''i bisa diibaratkan di rumah ada usaha untuk
meraih sesuatu dengan belajar keras dan rajin dan tidak mencontek sementara
untuk melempar jum'rah, menghindari kegiatan syirik dan mendekati perilaku
setan seperti melakukan pertengkaran tidak perlu , korupsi serta pendewaan
kepada sifatnya kebendaan yang fana. Legacy orang tua dan sekolah lewat
pendidikan agama itu adalah bekal yang akan menemani si anak dari kecil hingga
dewasa, diharapkan bekal positif ini membekas dan membawa warna yang tidak
hanya baik kepada dirinya tapi juga orang lain serta bangsanya. Amin.








Tidak ada komentar:
Posting Komentar